Sejarah Scooter Owners Group (SOG) di Bandung

Senin, 11 Maret 2013

KONVOI anggota Scooter Owners Group (SOG) menyemarakkan Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Keunikan lahirnya skuter Vespa, tidak ubahnya dengan kelahiran komunitas skuter Vespa di Kota Bandung, Scooter Owners Group. Komunitas yang lebih dikenal dengan singkatan SOG ini lahir karena pertemanan yang memiliki kesenangan yang sama.* DUDI SUGANDI/"PR" TIDAK hanya di kalangan penggila, seorang pencinta sekalipun akan melontarkan ungkapan pembenaran bahwa hanya ada satu sepeda motor yang
dianggap paling seksi, yakni Vespa! Boleh-boleh saja jika kita tidak setuju.

"Tapi Anda boleh membandingkan dengan kendaraan skuter jenis lain atau sepeda motor merek apapun, dipandang dari sudut mana pun Vespa sangat enak dilihat," ujar Imam, salah seorang anggota Scooter Owners Group (SOG) Bandung, di sela-sela kegiatan "U Mild U Bikers Safety Race to Asia 2008" di Lapangan Gasibu dan sekitar Jalan Diponegoro Bandung,
Sabtu (16/2) lalu.

Dilihat dari sejarahnya, menurut Imam, kehadiran Vespa tidak kalah unik dan menarik. Sejarah Vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Adalah Enrico Piaggio, pengusaha muda berdarah Italia yang memulai usahanya di bidang pesawat terbang. Dua puluh tahun kemudian, usahanya bangkrut. Piaggio yang pantang menyerah mulai merancang industri alat transportasi dengan alternatif kendaraan niaga ringan.

Pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Untuk pertama kali produk motor dengan seri P108, memiliki teknologi sederhana namun berbentuk sangat menarik seperti binatang penyengat (lebah) dengan bentuk kerangkanya. "Akibat tampilannya itu, motor ini lebih sering dinyatakan sebagai Wespe atau Vespa, yang artinya memang binatang penyengat," papar Imam.

Keunikan lahirnya skuter Vespa, tidak ubahnya dengan kelahiran komunitas skuter Vespa di Kota Bandung, Scooter Owners Group. Komunitas yang lebih dikenal dengan singkatan SOG ini lahir karena pertemanan yang memiliki kesenangan sama. "SOG lahir berawal ketika sepuluh orang warga Nangkasuni yang memiliki sepeda motor Vespa, berkeinginan mendirikan klub otomotif yang mengkhususkan diri pada kendaraan bermotor jenis skuter," ujar Boy Januar A., salah seorang pendiri SOG.

Hingga akhirnya Boy Januar bersama Tono S., H.D. Morabed, Beno Hendarin, Anthoy, Abah Iman, A. Raddy, Wawan, Yayan Peloy (Alm.), dan Saman, mulai merintis pendirian sebuah klub otomotif skuter akhir bulan Januari 1995. Upaya tersebut diawali dengan selalu berkumpulnya mereka yang akhirnya memunculkan gagasan untuk memakai Vespa Owners Club (VOC) sebagai nama klub skuter pertama di Kota Bandung tersebut.

Bukan hal yang mudah bagi Boy bersama sembilan rekannya untuk memulai menggalang dan mengumpulkan anggota. Perjalanan dilakukan dari waktu ke waktu dengan menyebarkan brosur ajakan untuk bergabung. "Setelah melalui beberapa kali pertemuan dan melakukan evaluasi, dengan pertimbangan menginginkan organisasi yang matang dan berumur lama akhirnya kita sepakat untuk berganti bendera. Alasannya, Vespa merupakan merupakan
sebuah merek produk. Apabila menggunakan nama tersebut maka hanya yang punya motor Vespa yang bergabung," ujar Boy, yang kini tercatat sebagai salah seorang pegawai di Geologi Jabar.

Dikatakan Boy, di Bandung maupun Indonesia pada umumnya motor tipe skuter tidak hanya Vespa. Ada juga merek lain seperti Lambretta, JLO, Sundapp, Bajaj, serta merek lainnya. Selain pertimbangan merek, penggantian nama dari Vespa Owners Club (VOC) menjadi Scooter Owners Club (SOC) Bandung, dilakukan untuk menciptakan sebuah organisasi besar. Perubaha nama juga guna merancang aturan yang akan dituangkan dalam bentuk anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, sehingga dalam melaksanakan aturan tersebut tidak bertentangan dan konsekuen baik masalah nama klub ataupun bentuk aturan lainnya.

Dalam perjalanannya, organisasi SOC pun mengalami berbagai kendala hingga akhirnya untuk kali kedua nama komunitas diubah menjadi Scooter Owners Group atau disingkat SOG. "Alasannya waktu itu karena kata group dianggap lebih besar dibandingkan dengan kata club, semisal Harley Owners Group jumlah anggotanya sangat banyak dan mendunia. Kami pun menginginkan anggota yang lebih banyak," ujar Boy.

Terbukti, keinginan dari jajaran pendiri serta pengurus secara perlahan membuahkan hasil. SOG kini memiliki anggota lebih dari 8.000 orang, yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah itu belum termasuk Brother Scooter yang berada di Singapura, Malaysia, Thailand, dan lainnya.

Di hadapan Kapolwiltabes dan instansi pemerintah terkait pada 18 Maret 1995, di Mapolwilatabes Bandung, Scooter Owners Group (SOG) diresmikan dan berdiri sebagai klub skuter di Bandung. "Dan hingga kini tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Scooter Owners Group (SOG) Bandung, yang ditetapkan dalam munas pertama SOG di Hotel Provence Bandung tiga tahun kemudian (1998) ," ujar Boy.

"Selain mengukuhkan hari jadi, juga dilakukan penyempurnaan AD/ART, logo Kalong SOG Indonesia, Keputusan Wilayah Bandung Raya menjadi Cabang dan wilayah lainnya menjadi cabang dari SOG Indonesia serta menjadikan SOG Indonesia sebagai induk organisasi," ujar Boy. Anggota SOG kini telah menyebar ke seluruh Nusantara, bahkan sudah go internasional. Setahun sejak kelahirannya (1996) majalah otomotif keluaran Inggris "Scootering Magazine" menuliskan kiprah SOG . Kebesaran SOG Indonesia juga dibuktikan dengan bergabungnya SOG Singapore dan SOG Malaysia sebagai Brothers SOG Indonesia.

Di tanah air, khususnya di Kota Bandung dan sekitarnya komunitas skuter tidak hanya diwadahi Scooter Owners Group, tetapi banyak komunitas-komunitas serupa bermunculan. Semakin tingginya nilai jual skuter di pasaran menambah jumlah komunitas skuter. Dalam lima tahun terakhir, populasi komunitas skuter di kota Bandung terus bertambah. Selain SOG Bandung, juga ada Vespa Antique Bandung (VAB), North Racing Scooter (NRS), Wariors Scooter Club (WSC), Vespa Club Bandung (VCB), Vespa Antique Club (VAC), Bandung Imortal Scooter (BIS), Scooter Army Bandung (SAB), Ikatan Scooter Pencinta Alam
(Ikaspala), Scooter Racer Club (SRC), Scooter Wings Adventure Team (SWAT), Parahyangan Independent Scooter Association (PISA), Zatinenzer Scooter Club (Z-SOC), Bhayangkara Vespa Club (BVC), dan banyak lagi.

Sementara berdasarkan data Vespa Indonesia Online, tercatat tidak kurang dari 650 komunitas skuter yang ada di tanah air ini. Untuk menaikkan pamor dan nilai jual koleksi skuter, juga digelar scooter contest, mulai dari classic atau retro, custom modify, air brush modify, extreme modify, dan lainnya. Akibatnya, booming skuter kini kembali terjadi, kehadirannya tidak hanya sebagai sarana transportasi bagi kaum urban masa kini, tetapi juga sebagai sarana having fun and pleasures yang dapat tampil penuh gaya.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

1 komentar:

Salma Esa mengatakan...

post lagi dong yang baru-barunya.

Poskan Komentar